Jumat, 16 Juni 2017

Detik detik wafatnya Baginda Rasullulloh SAW





Alloh Berfirman :
Artinya
" Pada hari ini telah aku sempurnakan agamamu, dan telah kusempurnakan pula ni'matKu atasmu, serta Aku ridho Islam sebagai agamamu:. ( Al-Maidah 3 )".

Nabi SAW bersabda :
Artinya :
"Jibril berkata kepadaku: : Ya Muhammad, bahwasanya Allah SWT telah menjadikan lautan dibalik bukit Qaf, di dalamnya ada ikan-ikan yang bersholawat kepadamu, siapa menangkapnya seekor, pasti matilah (keplek) kedua tangannya dan berubahlah ikan tersebut menjadi batu-batuan".

Hadist tersebut menyimpan isyarat bahwa orang bersholawat atas Nabi Muhammad SAW, dan aktif shalat lima waktu, maka ia akan terbebas dari siksa malaikat dan siksa neraka.

Menurut riwayat, ketika ayat tersebut turun, maka menangislah Umar RA lalu Rasul SAW bertanya: "Kenapa engkau menangis hai Umar ? Jawabnya: "Aku menangis sebab kami dalam keadaan memuncak didalam agama, dan apabila ia telah sempurna, maka pada dasarnya tidak ada sesuatu yang sempurna kecuali dapat dipastikan berkurang, kemudian beliau SAW bersabda: " Benar pendapatmu ". ( Abu Su'ud )

Tafsir dan Asbabun Nuzul :
Kata Alyaum, huruf Lam menunjuk arti Lil'ahdi yaitu jaman mendatang dan hal-hal yang berhubungan dengan jaman terdahulu dan mendatang".
Telah diriwayatkan bahwa ayat 3 Surat Al-Maidah itu, turun ba'da Ashar, hari Jum'at di Arafat bertepatan dengan musim Haji Wada, 'saat beliau SAW wuquf di Arofah dan bertengger di atas ontanya. Dan sesudah itu, tiada satu pun ayat atau perintah yang turun. Dan ketika ayat tersebut turun beliau SAW tidak mampu menerimanya, sehubungan kandungan dan maknanya, maka bersandarlah beliau SAW pada ontanya, dan onta tersebut lantas duduk kemudian turunlah Jibril dan berkata: "Ya Muhammad, pada hari ini telah sempurna urusan agamamu, dan selesailah apa-apa yang Tuhan perintahkan padamu, demikian pula apa-apa yang Tuhan melarangnya. Maka himpunlah para sahabatmu, khabarkan kepada mereka bahwasannya aku tidak akan turun lagi kepadamu sesudah hari ini". Lalu beliu SAW pulang dari Mekah ke Madinah, para sahabat dihimpun dan beliau membaca ayat tiga surat Al-Maidah dan kabarkan kepada mereka tentang berita yang disampaikan Jibril, mereka menyambutnya dengan kegembiraan, kata mereka: "Sungguh telah sempurnalah agama kita", berbeda dengan Abu Bakar RA., yang menerima kenyataan ini dengan penuh keprihatinan, ia pulang kerumahnya, pintu ditutup dan langsung menangis siang-malam, hingga para sahabat yang lain mendengarnya, mereka berhimpun dan langsung mengunjunginya, lalu bertanya:" Hai Abu Bakar, kenapa engkau menangis, padahal kita dalam keadaan senang, gembira menyambut kabar itu? Bukankah Allah telah menyempurnakan Agama Kami? Jawabnya :" hai kawan, kalian belum menyadari adanya musibah yang menimpa diri kalian, perhatikan baik-baik
Artinya :
"bahwasannya, apabila suatu urusan telah sempurna(sukses memuncak), maka terlihat nyatalah kelemahan/kekurangannya ".

Dan ayat ini menyimpan berita duka, tentang perpisahan kita (yakni antara Nabi SAW . dengan para sahabat), dan tentang keadaan Hasan-Husein yang sebentar lagi menjadi anak yatim keduanya, serta para istri beliau SAW. Menjanda semuanya. Maka dengan menjelasannya ini, menjeritlah diantara para sahabat, dan mengislah semuanya, dan terdengar pula isakan tangis dari selain mereka,di rumah Abu Bakar mereka datang manghadap nabi SAW. Dan berkata :" Ya Rasul, kami tidak mengerti, kenapa kawan-kawan dari para sahabat pada menangis di rumah Abu Bakar?" Maka seketika itu juga, berubahlah roman wajah Nabi SAW., beliau tegak dan langsung menuju kediaman Abu Bakar membuktikan mereka yang tengah menangis, lalu sabdanya:" Apa gerangan yang menyebabkan kalian menangis?" Sahabat Ali berkata: " Bahwasannya Abu bakar menyatakan, bahwa dari ayat ini tercium kabar kewafatan rasul saw". Benarkah ayat ini membuktikan atas kewafatannya? Jawab beliau SAW. : betul, apa yang dinyatakan oleh Abu bakar RA., dan sungguh, telah dekat saat perpisahan ku dengan mu, aku akan meninggalkan kalian. Dan peristiwa ini memberi isyarat bahwa Abu Bakar adalah diantara para sahabat yang lebih pandai. Kemudian ketika hal ini sampai kepada Abu Bakar, langsung ia menjerit keras dan langsung tersunggkur pingsan, Ali menjadi gemetar tubuhnya dan para sahabat lainnya menjadi goncang merasa takut, semua menangis , hingga bukit-bukit, batu-batuan dan seluruh malaikat dilangit, termasuk hewan-hewan melata didarat, hewan-hewan dilautan semuanya menangis merasa bela sungkawa. Kemudian belaiu saw menjabat tangan para sahabatnya seorang demi seorang, lalu beliau tinggalkan bereka seraya menangis, dan beliu tinggalkan pula pesan untuk mereka. Sisa umur beliau adalah hanya delapan hari sesudah turunnya ayat tersebut, tetapi ada riwayat yang menyebutkan 50 hari sesudah turunya ayat
Artinya
"Mereka minta fatwa kepadamu (tentang kalalah ), katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah(yaitu...) "(Annisak176).
Juga ada riwayat yang menyebutkan 35 hari sesudah turunnya ayat tersebut :

Artinya
"Sungguh telah datang kepadamu seorang rosul dari bangsamu sendiri, ...". 
  (At-Taubat 128 ).

Dan ada pula riwayat yang menyebutkan 21 hari sehabis turun ayat berikut :

Artinya "Dan jagalah dirimu dari ajab yang terjadi pada hari, dimana kalian dipulangkan kehadirat Allah SAW ". (Al Baqoroh 281).

Demikian lah ayat terakhir yang diturunkan dari Al- Qur'an, sesudah itu beliau SAW pada suatu hari naik mimbar berkhutbah penuh kesungguhan, banyak para sahabat yang mencucurkan airmatanya, hati mereka dipenuhi kecemasan dan ketakutan tubuhnya gemetar akibat kabar gembira dan mengiriskan yang disampaikan oleh beliau saw.
Dari Ibnu Abas ra bahwasannya disaat menjelang wafat beliau saw., Bilal disuruh mengumandangkan adzannya, untuk sholat, maka berhimpulah para sahabat Muhajirin maupun Anshar di mesjid Rasul SAW., beliau shalat ringan 2 rakaat, bersama mereka lalu disambung dengan khutbahnya demikian:
Artinya
"Hai sekalian umat islam , aku adalah sebagai nabimu, penasihatmu, dan Da'i yang mengajakmu ke jalan Allah dengan idzinnya, aku denganmu bagaikan saudara kandung dan bapak yang penuh kasih sayang, siapa yang pernah teraniyaya berhak menuntut balas pada pribadiku, tegaklah segera sebelum aku dituntut balas kelak dihari kiamat".

Tiada seorang pun dari antara mereka yang tegak menuntut balas terhadap beliau,. Hingga beliau serukan dua, tiga kali. Maka tegaklah seorang pria bernama 'Akasyah bin Muhshan, ia berdiri dihadapan beliau Saw. Dan berkata: " Demi Ayah dan Ibuku ya Rasul , kalau saja tidak kau umumkan berulang-ulang , akupun tidak mungkin mengajukan tuntutan, sungguh aku pernah bersamamu dalam perang badar , perjalanan ontaku mengikuti ontamu, lalu aku turun mendekatimu dengan tujuan supaya aku dapat mencium pahamu, namu tiba-tiba engkau mengangkat tongkatmu dan memukul ontamu supaya jalan cepat , dan saat itu pula engkau pukulkan pada tulang rusukku, tiada tau pasti apakah itu disengaja atau tidak ? jawab beliau saw.: " Ya Akasyah Hal itu memang tiada unsur kesengajaan memukulmu, lalu beliau menyuruh Bilal " Hai Bilal ambilkan lah tongkatku di rumah Fatimah putriku", kemudian Bilal keluar dari mesjid seraya meletakan tangannya nya diatas kepala, ia berkata pada dirinya: "Apakah hal ini Rasul SAW. Bersiap-siap untuk menerima balasannya? Lalu ia ketuk rumah Fatimah, dan ditanya: " Siapakah itu? Jawabnya: " Aku Bilal disuruh mengambil tongkat Rasul Saw. Fatimah bertanya " Buat apakah ayahku menyuruhmu mengambila tongkat hai Bilal? Jawabnya : "sungguh Rasul SAW. Telah bersiap menerima balas pukul, Ya Fatimah . Tanya Fatimah: " Siapa orangnya yang sampai hati hendak menuntut balas pukul, hai Bilal ? akhirnya iapun mengambil tongkat tersebut dan segera pergi menuju mesjid, ia serahkan tongkat kepada beliau SAW,. Selanjutnya beliau menyerahkannya kepada Akasyah. Maka ketika itu pula Abu Bakar dan Umar tegak, keduanya berkata : " Hai Akasyah, kini kami tidak sampai hati melihat balas pukulmu terhadap Rasul saw,. Dan sebagai gantinya pukullah kami berdua ini. Dan Ali pun tegak  berkata " Hai Akasyah, sepanjang hidupku selalu disamping rasul saw dan aku tidak sampai hati melihat tindak balasanmu terhadap beliau saw,. Untuk itulah pukulah punggung dan perutku serta tubuhku ini ", sabda beliau "Hai Abu Bakar dan Umar, duduk dan tenanglah kalian berdua, sungguh tempat kalian berdua telah diketahui disisi Allah". Dan Kepada Ali belaiu bersabda " Hai Ali duduk dan Tenanglah kamu sungguh tempat dan tujuan mu telah dicatat disisi Allah lalu Hasan Dan Husein pun berkata: " Hai Akasyah tiada kenalkah kamu dengan cucu Rasul Saw., lakukanlah balas pukulmu kepada kami berdua, berarti engkau telah puas dengan balasan itu ? sabda beliau saw. : "Hai Hasan Husein buah hatiku tenang dan duduklah". dan beliau bersabda "Hai Akasyah pukullah aku jika kau mau" jawabnya, Ya Rasul engkau dulu memukulku tidak berpakaian . beliau pun menukar pakainnya, hingga menangislah semua umat islam yang hadir di saat itu. Dan ketika itu pula Akasyah memegang dan mencium tubuh/punggung beliau yang putih itu, katanya : ku tebus dirimu dengan jiwaku, Ya Rasul, siapakah yang sampai hati memukulmu, sungguh tindakanku demikian ini, tiada tujuan lain kecuali supaya tubuhmu yang mulia ini dapat disentuh oleh tubuhku, dengan harapan pula tubuhku dapat terpelihara dari sengatan api neraka berkata kehormatanmu, sabda beliau SAW " Ketahuilah hai para sahabat , siapa yang ingin melihat ahli surga, maka pandanglah orang ini . maka tegaklah umat islam, dan menciumi diantara kedua mata Akasyah seraya berkata: " beruntunglah kamu telah memperoleh tingkat yang tinggi dan berkawan dengan Rasul SAW. disurga ".
Artinya :
"Ya Allah, berilah kami kemudahan memperoleh syafaat beliau saw. Dengan kemuliaan dan keluhuranMu."

Ibnu Mas'ud berkata: Menjelang wafat beliau. Berhimpun dirumah dewi Aisyah ra beliau mengamati kami hingga berderailah air matanya, beliau pun bersabda : "Marhaban bikum ( Selamat datang bagimu ), semoga Allah selalu mengasihimu. Pesanku bertaqwalah kalian kepada Allah SWT dan mematuhi segala perintahnya, kini telah dekat saat perpisahanku dengan kalian dan telah dekat pula saat seseorang pulang ke hadirat Allah SWT untuk menghuni surganya. Maka mandikanlah nanti mayatku oleh Ali, dengan dibantu Fadlal Bin Abas yang menuangkan airnya,serta Usamah Bin Zaid membantu mereka berdua. Kemudian bungkus dengan kafan pakainku sendiri jika kalian mau , atau kain yaman putih. Dan jika kalian memandikanku, letakkanlah diatas bala tempat tidur dirumahku, kemudian keluarlah kamu sejenak meninggalkanku, maka yang pertama menshalatiku adalah Allah SWT, lalu Jibril, Israfil, Mikail serta Izrail berikutnya para pembantunya , sesudah itu para malaikat dan seluruhnya, baru setelah itu kalian boleh masuk menshalatiku berjamaah ( Sekelompok demi kelompok). Maka setelah mereka mendengar perpisahan dari nabi saw." Menjeritlah para sahabat dan menangis sambil berkata : Ya Rasul engkau lah Rasul kami, sebagai penguat perhimpunan kami, dan sebagai pemimpin yang mengurusi kami, maka jika engkau tiada, kepada siapakah kami mengadukan urusan kami ? 
Maka bersabda Beliau SAW ,:
Artinya :
"Kutinggalkan kalian pada jalan yang benar dan jelas dan kutinggalkan pula dua penasihat bagimu, yang satu pandai bicara sedang yang lainnya diam, itulah dia Al'Quran dan Maut.ketika kamu menghadapi urusan penting maka pulanglah kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan jika hatimu keras lunakkanlah dengan memetik i'thibar dalam hal-ikhwal maut".

Maka sakitlah Rasul saw. Pada akhir bulan Shafar selama 18 hari, para sahabatnya pun berulang kali menengoknya. Dan penyakitnya mulai pertama jatuh sakit, hingga wafatnya adalah sekedar pusing-pusing kepala. Beliau diangkat sebagai Rasul pada hari senin maka wafatnya pula hari senin. Dihari senin itulah penyakitnya meningkat/ jadi parah, dan Bilal selesai adzan Shubuh, ia pergi mendekati pintu Rasul Saw,. Ia uluk salam tapi yang menjawab hanya Fatimah, beliau saw tengah sibuk dengan pribadinya. Dan bilalpun pulang ke masjid dengan tiada mengaanalisa jawaban fatimah tadi. Maka ketika waktu shubuh agak terang. Bilai kembali mendekati pintu rumah Rasul Saw,. Ia uluk salam seperti semula, maka beliau pun mendengan suara Bilal, dan memepersilahkan masuk, sabdanya " Masuklah bilal aku tengah sibuk merawat diriku, dan penyakitku semakin meningkat/bertambah berat, karna itu suruh Abu Bakar shalat bersama mereka". Maka Bilai keluar sambil menangis, ia letakan kedua tangannya diatas kepala seraya berkata: " aduh kita terimpa malapetaka, terhentilah harapaan, lenyaplah tempat tujuan, kalaulah ibu tidak melahirkan diriku ", kemudian ia masuk mesjid dan berkata: " Ya Abu Bakar, Rasul menyuruh anda untuk shalat bersama para jamaaah yang hadir, sebab beliau sibuk dengan sakit yang menimpa dirinya". Maka tatkala Abu bakar melihat pengimaman Rasul Saw. kosong ia pun menjerit akibat tidak tahan dengan perasaan ibanya, ia jatuh tersungkur (pingsan) Maka para jamaah pun kisruh/gaduh hingga beliau saw. Mencium kegaduhan tersebut, sabdanya : " Ya Fatimah apa yang terjadi di pagi ini, dan kegaduhan itu ? Jawabnya : " Hal itu akibat engkau tiada hadir". Maka beliaupun memanggil ali dan Fadhal Bin Abas, beliau menyandarkan diri pada dua orang tersebut, lalu keluar menuju masjid untuk shalat shubuh berjamaah 2 rakaat. Sehabis shalat beliau menghadap para jamaah dan bersabda:" Wahai umat islam,kalian didalam pemeliaharaan Allah dan perlindunganNya, bertaqwalah kepadanya dan memetuhi segala perintahnya , sungguh pada hari ini aku bakal meninggalkan dunia yang fana ini, sekaligus memasuki alam akherat, dan pada hari inilah akhir hayatku didunia"
Kemudian beliau tegak, dan pulang kerumahnya.maka Allah menyuruh malaikat maut, Firmannya : "Turunlah kamu untuk kekasihKu dengan bentuk terbaik, dan jalankan tugasmu sehalus-halunya, dalam mencabut ruhnya,jika ia mengijinkan masuk, maka masuklah kamu, jikalau tidak maka pulanglah kamu jangan masuk". Dengan serta merta malaikat maut turun dengan bentuk orang badwi , katanya :
Artinya :
" Salam sejahtera tetaplah bagimu hai keluarga penghuni kanabian,

Bolehkah aku masuk ? Jawab Fatimah: "Ya Hamba Allah, bahwasannya Rasul saw. Tengah sibuk dengan sakitnya."
Lalu malaikat maut memanggil kedua kalinya dengan ucapannya:
Artinya :
" Salam sejahtera tetaplah bagimu Ya rasul, dan seluruh penghuni kenabian"

Bolehkah aku masuk ? maka beliaupun mendengar suara malaikat maut, dan bersabda: " Ya Fatimah siapakah yang berada diambang pintu?" Jawab fatimah: " Seorang badwi yang memanggil, dan aku telah mengatakan kepadanya, bahwa Rasul tengah sibuk dengan sakitnya. Kemudian malaikat maut memanggil yang ketiga kalinya dengan panggilan serupa, lalu ia memandang tajam kepadaku, lalu gemetar tubuhku, hatiku takut, dan bergeraklah seluruh sendi tulangku, seolah terputus sendi satu dengan lainnya, dan menjadi pucatlah wajahku beliau saw bersabda: "Taukah kamu siapakah dia itu, ya fatimah ? jawabnya: " tidak kenal jawabnya : " Dialah malaikat yang melenyapkan segala macam kelezatan, menghentikan segala bentuk napsu syahwat, dia pulalah yang memporakpondakan perhimpunan, dan yang membuat sepi penghuni rumah, serta yang membuat ramai suasana alam kubur". Maka menangislah Fatimah sekerasnya, sahutnya : " Aduh celaka dengan kewafatan nabi terakhir, sungguh malapetaka besar menimpa kami dengan wafatnya manusia mulia yang paling bertaqwa, terhentilah dari bimbingannya, dan penyesalan bagi kami akibat terhentinya wahyu langit, sungguh aku terhalang mendengar sabdamu, dan tiada kudengar lagi uluk salammu sesudah hari ini. Sabda beliau saw.: " Ya fatimah janganlah engkau menangis, sebab engkau orang pertama dari keluargaku yang dapat berjumpa denganku". Maka beliaupun mempersilahkan malaikat maut, dan ia masuk seraya mengucapakan uluk salam kepada rasul saw. Lalu dijawablah salam oleh beliau saw, sabdanya : " Kedatanganmu berkunjung ataukah mencabut nyawa ? jawabnya: " Aku datang untuk berkunjung sekaligus mencabut nyawa kalau engkau berkenan, tetapi kalau tidak maka maka akupun akan pulang". Sabdanya beliau saw: " Hai malaikat maut, dimanakah Jibril", ia mengambil duduk dengan posisi dekat kepala beliau SAW. Rasul bertanya : " Ya Jibril tahukah anda tentang ajalku, apakah sudah dekat ?" Jawabnya : " Ya betul ajalmu telah dekat Ya Rasul ". Sabdanya: " Ya Jibril kabarkanlah kepadaku tentang karamah yang menggembirakan di sisi Allah." Sahut Jibril: " Bahwasannya pintu-pintu langit telah terbuka, malaikat bagaikan pasukan yang berbaris siap menyambut kehadiran rohmu di langit, semua pintu sorgapun tealah terbuka , dan seluruh kerabatnya para bidadari telah menghias diri menyambut kehadiran rohmu. ucap beliau saw, : "ALHAMDULILLAH ", kemudian sabdanya pula " Ya Jibril sampaikanlah kabar gembira kepadaku tentang keadaan umatku kelak dihari kiamat?"Jawabnya: Ya, bahwasannya Allah SWT. Berfirman: "Bahwasannya semua nabi dilarang masuk sorga sebelum engkau memasukinya terlebih dahulu, demikian pula seluruh umat dilarang sebelum umatmu memasuki terlebih dahulu". Sabdanya: " Kini puaslah hatiku dan lenyaplah rasa sedihku". Akhirnya beliaupun menyuruh malaikat maut untuk mendekat, sabdanya: " Hai malaikat maut, mendekatlah kepadaku". Maka iapun mendekat dan mulailah dengan tugasnya, mencabut rohnya, dan saat roh sampai dipusat, beliau SAW Bersabda: " Ya Jibril Dasyat benar rasa maut ini?" Jibril pun berpaling, dan berkatalah beliau sabdanya," Ya Jibril tidak sukakah engkau memandang wajahku?" Jawabnya: " Ya Habibullah siapakah yang sampai hati memandang wajahmu yang telah menghadapi sakaratul maut?


Anas Bin Malik ra. Berkata :
Artinya :
"Adalah ketika roh Nabi Muhammad sampai kebagian dada beliau bersabda :" Aku berpesan supaya kalian memelihara shalat, dan hal-hal yang menjadi tanggung jawabmu, pesan/wasiat tersebut beliau ulangi hingga terhentilah bicaranya".

Ali RA berkata :
Artinya :
" Bahwasannya rasul saw. Menjelang akhir hayatnya beliau gerakkan bibir 2x, aku memperhatikan baik-baik ucapan terakhir :" Umatku, umatku beliau ucapkan pelan-pelan, maka dicabutlah roh beliau saw, tepat pada hari senin Bulan Rabiul Awal".

Artinya :
"Kalau saja dunia ini kekal bagi seseorang, pasti rasul saw,yang berhak hidup kekal diatasnya."

Ada riwayat lain yang menyebutkan, bahwa Ali membaringkan wajah jenazah Rasul saw. Untuk dimandikan lalu terdengarlah suara keras dari sudut rumah yang melarang Ali, katanya " Hai Ali, Muhammad jangan dimandikan, sebab ia orang yang suci dan di sucikan", namun Ali meragukan kebenaran suara itu. Lalu ia bertanya: " siapa engkau yang bersuara tanpa rupa ? padahal Rosul telah menyuruh diriku untuk memandikan? Dan pada saat yang sama terdengar pula suara, yang menangkisnya, katanya: " Ya Ali, lanjutkanlah engkau memandikan Muhammad, ketahuilah bahwa suara pertama itu dari iblis, ia iri kepada Nabi saw dan ia menghasudmu, supaya beliau saw. Dimakamkan tanpa dimandikan ". 
Sahut Ali: " Semoga Alloh berkenan membalas kebaikanmu, atas pemberitahuanmu padaku, bahwa suara pertama adalah Iblis terkutuk, dan siapakah engkau ini ? jawabnya: " Akulah Hidlir (Nabi Hidlir), kedatanganku sengaja untuk menghormati jenazah Nabi Muhammad saw. Maka Alipun memandikan jenazah beliau, dan fadlal bin Abas serta Zaid Bin Usamah membantu menuangkan airnya. Jibril pun datang dengan membawa obat dari surga untuk mengawetkan jasad beliau saw. Lalu mereka membungkus dengan kafan, dan memakamkan di kamar Aisyah ra., ditengah malam rabu. namun ada yang menyebutkan di malam selasa ' Aisyah tegak di atas makam makam beliu saw seraya berkata :
Artinya:
"Wahai orang yang tidak pernah memakai kain sutra, dan tiada pernah tidur diatas kasur yang tebal, wahai orang yang meninggalkan alam fana ini, perutnya tidak pernah kenyang sekalipun roti yang terbuat dari tepung/gandum kasar, wahai orang yang senang tidur diatas tikar daripada tidur diatas kasur tebal, wahai orang yang tak pernah tidur semalam suntuk, akibat takut/gentar akan siksa neraka Syair".

Innalillahi Wainna ilahi Raajiun……..
Doa Kami Umatmu
Ya Rasullallah
Kami Rindu padamu
Jadikanlah kami semua sebagai umatmu
Sungguh kami mencintaimu dan akan selalu menjalankan sunnnahmu sebagai bentuk cinta kami padamu
Berilah Syafaat kepada mu buat umatmu ini
Kami Cinta padamu Duhai Kekasih Alloh
Dapatkan kami membalas jasamu jasamu terhadap kami
Kau doakan kami sebagai umatmu walalupun kau belum pernah melihat kami
betapa kami ta mampu membalas nya
hanya dapat menjalankan sunnahmu
pengharapan kelak bisa berjumpa denganmu
Amien Amien Ya Alloh Ya Rabbal Alamin …..

Rabu, 14 Juni 2017

Kepergian Bulan Ramadhan di Tangisi Semua Makhluk di Langit dan di Bumi


      Betapa kerinduan kita akan bertemu Bulan Ramadhan sudah kita dapatkan
namun kita tanyakan pada diri kita sendiri sudah sejauh mana kita menghidupkan Bulan Ramadhan dengan amalan amalan yang baik, sungguh jauh kita telah menyia nyiakan  waktu ini yang  dan singkat ini.
     Namun waktu akan terus berjalan hingga penyesalan pun akan kita dapatkan sebentar lagi
Bulan Ramadhan akan kita tinggal kan akankah kita bertemu lagi ditahun berikutnya Wallohhu Alam.
   Akhir bulan ramadhan senantiasa kita disibukkan dengan belanja, shooping di maal padahal Rasulullullah tidak pernah meyuruh semua itu
Rasullullulah menyuruh umatnya yaitu untuk lebih banyak lagi beribadah apalagi di sepuluh akhir Ramadhan ini.
     Ya Allloh maafkan kan diriku ini  yg selalu melalaikan akan perintah-MU dan RasulMU
sungguh aku malu mengharapkan surgamu sedangkan ibadahku sangat jauh dari surgamu.
     Dari Jabir ra, Rasullullah SAW Bersabda  :
Bila mana akhir malam Bulan Ramahan akan berakhir , maka segenap makhluq makhluq besar , dilangit an Bumi serta para malaikat menangis, mereka ber duka atas bencana yang menimpa umat Muhammad  SAW, lalu para sahabat bertanya : Bencana apakah Ya Rasul ? Jawabnya : " yaitu akan bencana kepergiannya Bulan Ramadhan, sebab di bulan Ramadhan segala doa akan dikabulkan,  semua sedekah akan diterima dan amal amal baik ilipatgandakan pahalanya, siksa kubur akan ditangguhkan." ( hayatul qulub)

     Saudara ku sungguh kita sudah jauh menyia nyiakan waktu yg berharga ini masih berapa hari lagi yuks kita maksimalkan ibadah kita sesuai dengan kemampuan yg kita miliki Aamiin
Selamat Tinggal Bulan Ramadhan
Selamat datang hari raya Iul Fitri
Semoga kita menjadi pemenang di Bulan Ramadhan ini Aamin

Belajar dari Kesabaran Nabi Ayub as


     KISAH NABI AYUB Nabi Ayub as menggambarkan sosok manusia yang paling sabar, bahkan bisa dikatakan bahwa beliau berada di puncak kesabaran. Sering orang menisbatkan kesabaran kepada Nabi Ayub. Misalnya, dikatakan: seperti sabarnya Nabi Ayub. Jadi, Nabi Ayub menjadi simbo...l kesabaran dan cermin kesabaran atau teladan kesabaran pada setiap bahasa, pada setiap agama, dan pada setiap budaya. Allah SWT telah memujinya dalam kitab-Nya yang berbunyi: “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaih-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Shad: 44) Yang dimaksud al-Aubah ialah kembali kepada Allah SWT. Nabi Ayub adalah seseorang yang selalu kembali kepada Allah SWT dengan zikir, syukur, dan sabar. Kesabarannya menyebabkan beliau memperoleh keselamatan dan rahasia pujian Allah SWT padanya. Al-Qur’an al-Karim tidak menyebutkan bentuk dari penyakitnya, dan banyak cerita-cerita dongeng yang mengemukakan tentang penyakitnya. Dikatakan bahwa beliau terkena penyakit kulit yang dahsyat sehingga manusia-manusia enggan untuk mendekatinya. Dalam cuplikan kitab Taurat disebutkan berkenaan dengan Nabi Ayub: “Maka keluarlah setan dari haribaan Tuhan dan kemudian Ayub terkena suatu luka yang sangat mengerikan dari ujung kakinya sampai kepalanya.” Tentu kita menolak semua ini sebagai suatu hakikat yang nyata. Kami pun tidak mentolerir jika itu dianggap sebagai perbuatan seni semata. Perhatikanlah ungkapan dalam Taurat: “Kemudian setan keluar dari haribaan Tuhan kita,” sebagai orang-orang Muslim, kita mengetahui bahwa setan telah keluar dari haribaan Tuhan sejak Allah SWT menciptakan Adam as. Maka, kapan setan kembali keharibaan Tuhan? Kita berada di hadapan ungkapan seni, tetapi kita tidak berada di hadapan suatu hakikat. Lalu, bagaimana hakikat sakitnya Nabi Ayub dan bagaimana kisahnya? Yang populer tentang cobaan Nabi Ayub dan kesabarannya adalah riwayat berikut: para malaikat di bumi berbicara sesama mereka tentang manusia dan sejauh mana ibadah mereka. Salah seorang di antara mereka berkata: “Tidak ada di muka bumi ini seorang yang lebih baik daripada Nabi Ayub. Beliau adalah orang mukmin yang paling sukses, orang mukmin yang paling agung keimanannya, yang paling banyak beribadah kepada Allah SWT dan bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya dan selalu berdakwah di jalan-Nya.” Setan mendengarkan apa yang dikatakan lalu ia merasa terganggu dengan hal itu. Kemudian ia pergi menuju ke Nabi Ayub dalam rangka berusaha menggodanya tetapi Nabi Ayub adalah seorang Nabi di mana hatinya dipenuhi dengan ketulusan dan cinta kepada Allah SWT sehingga setan tidak mungkin mendapatkan jalan untuk mengganggunya. Ketika setan berputus asa dari mengganggu Nabi Ayub, ia berkata kepada Allah SWT: “Ya Rabbi, hamba-Mu Ayub sedang menyembah-Mu dan menyucikan-Mu namun, ia menyembah-Mu bukan karena cinta, tapi ia menyembah-Mu karena kepentingan-kepentingan tertentu. Ia menyembah-Mu sebagai balasan kepada-Mu karena Engkau telah memberinya harta dan anak dan Engkau telah memberinya kekayaan dan kemuliaan. Sebenarnya ia ingin menjaga hartanya, kekayaannya, dan anak-anaknya. Seakan-akan berbagai nikmat yang Engkau karuniakan padanya adalah rahasia dalam ibadahnya. Ia takut kalau-kalau apa yang dimilikinya akan binasa dan hancur. Oleh karena itu, ibadahnya dipenuhi dengan hasrat dan rasa takut. Jadi, di dalamnya bercampur antara rasa takut dan tamak, dan bukan ibadah yang murni karena cinta.” Riwayat tersebut mengatakan bahwa Allah SWT berkata kepada iblis: “Sesungguhnya Ayub adalah hamba yang mukmin dan sejati imannya. Ayub menjadi teladan dalam keimanan dan kesabaran. Aku membolehkanmu untuk mengujinya dalam hartanya. Lakukan apa saja yang engkau inginkan, kemudian lihatlah hasil dari apa yang engkau lakukan.” Akhirnya, setan pergi dan mendatangi tanah Nabi Ayub dan berbagai tanaman dan kenikmatan yang dimilikinya. Kemudian setan itu menghancurkan semuanya. Keadaan Nabi Ayub pun berubah dari puncak kekayaan ke puncak kefakiran.
     Kemudian setan menunggu apa tindakan Nabi Ayub. Nabi Ayub berkata: “Oh musibah dari Allah SWT. Aku harus mengembalikan kepada-Nya amanat yang ada di sisi kami di mana Dia saat ini mengambilnya. Allah SWT telah memberi kami nikmat selama beberapa masa. Maka segala puji bagi Allah SWT atas segala nikmat yang diberikannya, dan Dia mengambil dari kami pada hari ini nikmat-nikmat itu. Bagi-Nya pujian sebagai Pemberi dan Pengambil. Aku dalam keadaan ridha dengan keputusan Allah SWT. Dia-lah yang mendatangkan manfaat dan mudharat. Dia-lah yang ridha dan Dialah yang murka. Dia adalah Penguasa. Dia memberikan kerajaan kepada siapa yang di kehendaki-Nya, dan mencabut kerajaan dari siapa yang dikehendaki-Nya; Dia memuliakan siapa yang dikehendaki-Nya dan menghinakan siapa yang dikehendaki-Nya.” Kemudian Nabi Ayub sujud dan Iblis tampak tercengang melihat pemandangan tersebut. Lalu setan kembali kepada Allah SWT dan berkata: “Ya Allah, jika Ayub tidak menerima nikmat kecuali dengan mengatakan pujian, dan tidak mendapatkan musibah kecuali mendapatkan kesabaran maka hal itu sebagai bentuk usahanya karena ia mendapatkan anak. Ia mengharapkan dengan melalui mereka kekayaannya meningkat dan melalui mereka ia dapat menjalani kehidupan yang lebih mudah.” Riwayat mengatakan bahwa Allah SWT membolehkan bagi setan untuk berbuat apa saja kepada anak-anak Ayub. Kemudian setan menggoncangkan rumah yang di situ anak-anaknya tinggal sehingga mereka semua terbunuh. Dalam keadaan demikian, Nabi Ayub berdialog kepada Tuhannya dan menyeru: “Allah memberi dan Allah mengambil. Maka bagi-Nya pujian saat Dia memberi dan mengambil, saat Dia murka dan ridha, saat Dia mendatangkan manfaat dan mudharat. Kemudian Ayub pun sujud dan iblis lagi-lagi tampak tercengang dan merasa malu.” Iblis kembali menemui Allah SWT dan mengatakan bahwa Ayub dapat bersabar karena badannya sehat. Seandainya Engkau memberi kekuasaan kepadaku, ya Rabbi, untuk mengganggu badannya niscaya dia akan berhenti dari kesabarannya. Riwayat mengatakan bahwa Allah SWT menginzinkan setan untuk mengganggu tubuh Ayub. Dikatakan bahwa setan memukul tubuh Nabi Ayub dari kepalanya sampai kakinya sehingga Nabi Ayub sakit kulit di mana tubuhnya membusuk dan mengeluarkan nanah, bahkan keluarganya dan sahabat-sahabatnya meninggalkannya kecuali isterinya. Namun lagi-lagi Nabi Ayub tetap bersabar dan bersyukur kepada Allah SWT. Beliau memuji-Nya pada hari-hari kesehatannya dan ia tetap memuji Allah SWT saat mendapatkan ujian sakit. Dalam dua keadaan itu, Nabi Ayub tetap bersabar dan bersyukur kepada Allah SWT. Melihat pemandangan itu, amarah setan semakin meningkat namun ia tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya. Di sini setan mengumpulkan para penasihatnya dari pakar-pakar dan ia menceritakan tentang kisah Ayub dan meminta mereka mengeluarkan pendapat—setelah ia menyampaikan rasa putus asanya saat menggodanya atau mencoba menghilangkan sifat sabarnya dan syukurnya. Salah seorang setan berkata: “Sungguh engkau telah mengeluarkan Adam bapak manusia dari surga, lalu darimana engkau mendatanginya? Oh, yang engkau maksud adalah Hawa?” Terbukalah di hadapan Iblis suatu ide yang baru. 
     Lalu ia pergi ke istri Ayub dan memenuhi hatinya dengan rasa putus asa sehingga ia pergi ke Ayub dan berkata padanya: “Sampai kapan Allah SWT menyiksamu? Di mana harta, keluarga, teman dan kaum kerabat? Di mana masa jayamu dan kemuliaanmu dahulu?” Mendengar perkataan isterinya itu, Nabi Ayub menjawab: “Sungguh engkau telah dikuasai oleh setan. Mengapa engkau menangisi kemuliaan yang telah berlalu dan anak yang telah mati?” Perempuan itu berkata: “Mengapa engkau tidak berdoa kepada Allah agar Dia menghilangkan cobaan darimu dan menyembuhkanmu serta menghilangkan cobaan darimu dan menyembuhkanmu serta menghilangkan kesedihannmu?” Nabi Ayub berkata: “Berapa lama kita merasakan kebahagiaan?” Istrinya menjawab: “Delapan tahun.” Ayub berkata: “Berapa lama kita mendapat penderitaan?” Istrinya menjawab: “Tujuh tahun.” Ayub berkata: “Aku malu jika aku meminta agar Allah SWT melepaskan penderitaanku ketika aku melihat masa kebahagiaanku. Sungguh imanmu tampak melemah dan keputusan Allah SWT membuat hatimu menjadi sempit. Seandainya aku sembuh dan kembali kepada kekuatanku, niscaya aku akan memukulmu dengan seratus kali pukulan dari tongkat. Sejak hari ini, aku tidak memakan dari makananmu dan dari minumanmu atau memerintahkanmu untuk melakukan suatu urusan. Maka pergilah kau dariku.” Akhirnya, isteri Nabi Ayub pergi sehingga Nabi Ayub tinggal sendirian dalam keadaan sabar menanggung penderitaanya. Penderitaan yang seandainya ditimpakan kepada gunung niscaya gunung tidak akan mampu menahannya. Kemudian Nabi Ayub berdoa kepada Allah SWT dalam keadaan penuh kasih sayang dan meminta belas kasih kepada-Nya. Beliau berdoa agar Allah SWT menyembuhkannya. Dan akhirnya, doanya dikabulkan oleh Allah SWT. Demikianlah riwayat yang populer berkenaan dengan penderitaan Nabi Ayub dan kesabarannya. Menurut hemat kami riwayat ini palsu karena ia sesuai dengan teks Taurat yang menjelaskan sakitnya Nabi Ayub. Begitu juga kami tidak menerima jika dikatakan bahwa penyakitnya sangat buruk sekali yang menyebabkan masyarakat lari darinya sebagaimana dikatakan oleh dongeng-dongeng kuno. Bagi kami, riwayat semacam itu bertentangan dengan kedudukan kenabian. Yang perlu kita perhatikan dan perlu kita pastikan adalah apa-apa yang telah disampaikan oleh Al-Qur’an berkenaan dengan cerita Nabi Ayub. Al-Qur’an adalah kitab satu-satunya yang pasti benar yang tiada kebatilan di depan dan di belakangnya. Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah kisah) Ayub ketika ia menyeru Tuhannya: (‘Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.’ Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyahit yang ada padanya dan Kami kembalihan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. al-Anbiya’: 83-84) Kita telah memahami bahwa Nabi Ayub adalah hamba yang saleh dari hamba-hamba Allah SWT. Allah SWT menginginkan untuk mengujinya dalam hartanya, keluarganya, dan badannya. Hartanya hilang sehingga ia menjadi orang fakir setelah sebelumnya ia termasuk orang yang paling kaya. Kemudian ia ditinggalkan oleh istrinya dan keluarganya sehingga ia merasakan arti kesunyian dan kesendirian lalu ia ditimpa penyakit dalam tubuhnya dan ia merasa menderita karenanya, tetapi beliau tetap sabar menghadapi semua itu dan tetap bersyukur kepada Allah SWT. Sakit yang dideritanya cukup lama sehingga beliau menghabiskan waktu-waktu dan hari-harinya dalam keadaan sendirian bersama penyakitnya, rasa sedihnya, dan kesendiriannya. Demikianlah Nabi Ayub merasakan segi tiga penderitaan. Segi tiga penderitaan dalam hidupnya, yaitu sakit, kesedihan, dan kesendirian. Di saat beliau mendapat cobaan seperti itu, pada suatu hari datang pada beliau salah satu pemikiran setan. Pikiran itu berputar-putar di relung hatinya; pikiran itu mengatakan padanya, wahai Ayub penyakit ini dan penderitaan yang engkau rasakan oleh karena godaaan dariku. Seandainya engkau berhenti sabar dalam satu hari saja niscaya penyakitmu akan hilang darimu. Kemudian manusia-manusia berbisik-bisik dan berkata: Seandainya Allah SWT mencintainya niscaya ia tidak akan merasakan penderitaan yang begitu hebat. Demikianlah pemikiran yang jahat itu. Setan tidak mampu untuk mengganggu seseorang kecuali dengan izin Allah SWT sebagaimana Allah SWT tidak menjadikan cinta-Nya kepada manusia identik dengan kesehatan mereka. Sesungguhnya Allah SWT menguji mereka sebagaimana yang dikehendaki-Nya.Pikiran setan itu berputar di sekitar hati Nabi Ayub seperti berputarnya lalat di musim panas di sekitar kepala manusia, namun beliau mampu menghilangkan pikiran ini dan sambil tersenyum kepada dirinya beliau berkata: “Keluarlah hai setan! Sungguh aku tidak akan berhenti bersabar, bersyukur, dan beribadah.” Akhirnya, pikiran jahat itu dengan rasa putus asa keluar dari akal Nabi Ayub. Nabi Ayub duduk dalam keadaaan marah karena setan berani untuk mengganggunya. Beliau membayangkan bahwa boleh jadi setan berani menggodanya dengan memanfaatkan kesendiriannya, penderitaannya, dan penyakitnya. Istri Nabi Ayub datang dalam keadaan terlambat dan mendapati Nabi Ayub dalam keadaan marah. Istrinya itu menutupi kepalanya dengan suatu kain tertutup. Istri Nabi Ayub menghadirkan atau menghidangkan makanan yang baik untuknya. Nabi Ayub bertanya padanya: “Dari mana engkau mendapati uang?” Nabi Ayub telah bersumpah akan memukulnya seratus kali pukulan dengan tongkat ketika beliau sembuh, tetapi kesabarannya sungguh sangat luas seperti sungai yang besar. Dan di waktu sore, setelah mengetahui kehalalan makanan yang dihidangkan, beliau pun memakannya. Kemudian Nabi Ayub keluar menuju ke gunung dan berdoa kepada Tuhannya. Allah SWT berfirman: “Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub ketika ia menyeru Tuhannya: ‘Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.’ (Allah berfirman): ‘Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesugguhnya Kami mendapati dia (Ayuh) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia sangat taat (hepada Tuhannya).” (QS. Shad: 41-44) Bagaimana kita memahami perkataan Nabi Ayub, “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.”? Nabi Ayub ingin mengadukan kepada Tuhannya perihal keberanian setan padanya di mana setan membayangkan bahwa ia dapat mengganggunya. Nabi Ayub tidak percaya bahwa sakit yang dideritanya adalah datang karena pengaruh setan. Demikianlah pemahaman yang sesuai dengan kemaksuman para nabi dan kesempumaan mereka. Allah SWT memerintahkan beliau untuk mandi di salah satu mata air di gunung. Allah SWT memerintahkannya agar beliau minum dari mata air ini. Kemudian Nabi Ayub melaksanakan perintah ini dan mandi serta minum. Belum lama beliau minum pada tegukan yang terakhir sehingga beliau merasakan sehat dan sembuh total dari penyakitnya. Kemudian suhu panas dalam tubuhnya pun kembali normal seperti biasanya. Allah SWT memberikan kepada Ayub dan keluarganya dan orang-orang yang seperti mereka suatu rahmat dari sisi-Nya sehingga Nabi Ayub tidak kembali sendirian. Allah SWT memberinya berlipat-lipat kekayaan dan kemuliaan dari sisi-Nya sehingga Ayub tidak menjadi fakir. Nabi Ayub kembali mendapatkan kesehatannya setelah lama merasakan penderitaan dan sakit; Nabi Ayub bersyukur kepada Allah SWT. Beliau telah bersumpah untuk memukul istrinya sebanyak seratus pukulan dengan tongkat ketika beliau sembuh. Sekarang beliau sembuh maka Allah SWT mengetahui bahwa beliau tidak bermaksud untuk memukul istrinya. Namun agar beliau tidak sampai melanggar janjinya dan sumpahnya, Allah SWT memerintahkannya agar segera mengumpulkan seikat ranting dari bunga Raihan yang berjumlah seratus dan hendaklah beliau memukulkan itu kepada istrinya dengan sekali pukulan. Dengan demikian, beliau telah memenuhi sumpahnya dan tidak berbohong. Allah SWT membalas kesabaran Ayub dan memujinya dalam Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Sh
ad: 44) (quantumillahi sejarah)
     Alhamdulillah Saudaraku banyak hikmah hari ini yg kita petik semoga menjadi pelajaran buat kita semua aamin

Suami yang Sholeh adalah Harta yang Paling Berharga




     Buat seorang wanita, harta yang paling berharga didalam hidup ini adalah seorang suami yang sholeh. Kepadanyalah, seorang istri akan merasakan kebahagian didalam hidupnya dan diakhirat kelak, keberuntunganlah yang akan diterima seorang istri, jika dia mempercayakan hidupnya, memberikan segala cinta, perhatian, dan kasih sayangnya kepada suami yang sholeh. Karena didirinyalah, seorang istri akan mendapatkan apa yang didambanya: Ketenangan, keteduhan, kedamaian, perlindungan dan cinta serta sayang.
     Suami yang sholeh adalah seorang yang bisa membahagiakan istri dan anaknya, serta keluarganya baik di dunia ini ataupun di akhirat kelak. Seorang suami yang sholeh tidak akan memberi makan istri dan anak-anaknya kecuali dengan harta yang halal.
     Seorang suami yang sholeh adalah seorang suami yang mampu menjaga amanah yang diberikan kepadanya. Dan istri adalah amanah yang diberikan kepada seorang laki-laki yang menjadi suaminya.
Suami yang sholeh adalah seorang suami yang mampu memperlakukan istri dan anaknya dengan sifat-sifat yang terpuji, seorang suami yang sholeh akan selalu memperlakukan istrinya dengan sabar, sabar dengan setiap kesalahan-kesalahan istrinya, dan memperlakukan istrinya dengan kelembuatan dan penuh maaf saat istri dipenuhi dengan emosi dan kemarahan.
Suami yang sholeh adalah suami yang mampu menjadi pemimpin didalam rumah tangganya. Seorang suami bagaikan pemerintah didalam rumah tangganya, seorang suami yang sholeh adalah yang mampu memperhatikan hak dan kepentingan rakyatnya didalam pemerintahan yang dipimpinnya, dalam hal ini adalah istrinya.
     Seorang suami yang sholeh akan selalu mampu bersikap bijaksana didalam tindakannya, menghargai pendapat istrinya, dan jika terjadi perbedaan pendapat dengan istrinya, dengan sikap terpuji dan penuh cinta kasih menghargai pendapat sang istri, serta mencari titik temu bersama dalam kerangka yang diperintahkan oleh alloh dan mejauhi segala yang dilarang oleh alloh.
     Seorang suami yang sholeh akan selalu mampu menjadi teladan terpuji buat istri dan anak-anaknya. Mampu menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan mendidik diri, istri, dan anak-anaknya untuk menapaki jalan-jalan yang menuju keridloan Alloh.
Seorang suami yang sholeh adalah seorang suami yang mampu membuat dirinya, istrinya dan anak-anaknya mencintai ilmu, menguasai ilmu dan mampu mengamalkannya, menjadikan ilmu yang diperolehnya itu bermanfaat bagi bangsa, negara, dan agamanya.
     Seorang suami yang sholeh adalah seorang suami yang mampu membuat istrinya dan anak-anaknya tumbuh, dan berkembang menjadi pribadi yang luar biasa serta menapaki tangga-tangga sukses di dunia ini dan akhirat kelak.
       Seorang suami yang sholeh adalah seorang suami yang akan selalu menjaga istri dan anaknya dari api neraka.


http://lovie.wordpress.com/2008/04/02/suami-sholeh/

Kisah Tauladan Rosullullah SAW dan Pengemis Yahudi



     Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya,

     "Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya".

     Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun. Rasulullah SAW hanya menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, menyisir rambutnya, sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

     Setelah wafatnya Rasulullah SAW praktis tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya, Aisyah RA, yang tidak lain tidak bukan merupakan istri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu,

     "Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?". Aisyah RA menjawab, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja". "Apakah Itu?", tanya Abubakar RA. "Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi keujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana", kata Aisyah RA.

     Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik,

     "Siapakah kamu ?". Abubakar RA menjawab,"Aku orang yang biasa.""Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", bantah si pengemis buta itu. "Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku", pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu,

      "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW". Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata,

     "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia malah mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... " Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.

     Wahai saudaraku, dikehidupan kita ini, pastilah kita akan selalu menghadapi yang namanya hinaan dan bahkan fitnah. Kita sering merasa di-dzolimi oleh orang lain. Namun ada baiknya kita mengikuti keteladanan kemuliaan akhlak Rasulullah SAW. Jangan kita membalas keburukan dengan keburukan, namun balaslah keburukan dengan kebaikan.

     Bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW? Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau? Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq. Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya.

     Semoga Allah SWT memasukkan kita kedalam golongan orang-orang yang sabar.. Aamiin

Pulang Ke Kampung Akhirat



   
  Kematian, adalah anak panah yg telah dilepaskan dari busurnya, dan kita tidak diberi tahu kapan anak panah kematian itu akan mengenai diri kita, beberapa hari ini media memberitakan tentang kematian seorang public figur meninggal dunia tiba tiba. Usia muda, tampan, kaya raya, popular dan sedang di puncak karir tiba tiba saja harus mengakhiri semua perannya. Bayangkan kalau anda sedang menonton film di bioskop. Pertunjukan sedang berlangsung seru ketika listrik tiba tiba padam. Petugas bioskop berkata, “silahkan anda pulang, pertunjukan sudah selesai!”Anda protes bahkan ingin menunggu sampai listrik hidup kembali tapi si penjaga hanya berkata tegas, “Pertunjukan sudah selesai, listriknya tak akan pernah hidup kembali.”.
     Itulah analogi sederhana dari kematian. Kematian orang yang kita kenal, apalagi kerabat kerabat dekat kita sering menyadarkan kita akan arti hidup ini. Kematian menyadarkan kita akan betapa singkatnya hidup ini, betapa seringnya kita diributkan oleh hal hal yg sepele dan betapa bodohnya kita menimbun kekayaan yang tak sempat kita nikmati.
     Hidup ini sering kali menipu dan menina bobokan kita. Untuk itu selayaknya kita intropeksi diri kita harus sadar mengenai siapa diri kita, darimana kita berasal dan kemana kita akan pulang yang sebenarnya untuk itu kita perlu sering mengambil jarak dari kesibukan kita dan melakukan kontemplasi.
     Ada suatu ungkapan menarik dari seorang filsuf Perancis, Teilhard de chardin,”kita bukanlah manusia yg mengalami pengalaman pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman pengalaman manusiawi. Manusia bukanlah”Makhluk bumi” melainkan “makluq langit”. Kita adalah makhluq spiritual yang kebetulan sedang menempati rumah kita didunia. Tubuh diperlukan karena merupakan salahsatu syarat untuk bisa hidup didunia. Tetapi tubuh ini lama kelamaan akan rusak dan akhirnya tak dapat digunakan lagi. Pada saat itulah jiwa kita akan meninggalkan “rumah” untuk “rumah” yang lebih layak. Keadaan ini kita sebut meninggal dunia. Jangan lupa, ini bukan berarti mati karena jiwa kita tak pernah mati.yang mati adalah rumah kita atau tubuh kita sendiri.
     Coba kita bayangkan seandainya kita mati hari ini baru terasa dan menyadari, akan dosa dosa yang telah kita perbuat semuanya akan dipertanggung jawabkan di hadapan Alloh SWT.
Saudara mumpung Alloh SWT masih memberikan kesempatan usia yuks kita perbaiki diri kita tak akan menjadi manusia yang ngoyo dan serakah. Kita memang perlu hidup, perlu makanan, tempat tinggal dan kebutuhan dasar lainnya. Bila anda sudah mencapai semua kebutuhan tersebut, itu sudah cukup! Buat apa sibuk mengumpul-ngumpulkan kekayaan apalagi dengan menyalahgunakan jabatan kalau hasilnya tak dapat anda nikmati selama lamanya. Apalagi anda sudah merusak jiwa anda sendiri dengan berlaku curang dan korup. Padahal jiwa inilah milik kita yang abadi.

MELAWAN KEMATIAN
     Kematian datang dengan berbagai cara. Tak ada yang bisa menghalangi, karena semua yang hidup pasti mati. Hanya soal waktu dan cara yang berbeda. 
    Tapi,semua kita memiliki sikap yang sama dalam menghadapi datangnya kematian. Setiap kita kalau bias memiliki keinginan untuk hidup selama lamanya. Hanya orang orang yang paham makna kematian saja yang bias menerima datangnya kematian dengtan ikhlas dan penuh harap.
     Bukan hanya bagi mereka yang terancam kematian. Mereka yang masih jauh dari kematian pun jauh jauh hari sudah memasang kuda kuda untuk melawan kematian. Coba bertanya pada kawan anda atau mungkin diri sendiri apakah anda siap untuk mati ahari ini? Jawabannya kan kurang lebih sama:’kalau bias, ya jangan sekarang lah’.
Beragam alasan orang untuk menghindari kematian. Ada yang merasa dirinya belum siap karena banyaknya dosa. Ia ingin bertobat ‘di masa depan’ yang entah kapan. Ada juga yang beralasan karena masih banyak tanggungan, atau ada pula masih dibutuhkan oleh umat.
     Alloh SWT telah memberiikan sinyal tentang insting melawan kematian itu Q.S.:62:8. kalau sekarang lolos, besok maut akan datang menghampiri.  Kalaupun besok lolos,minggu depan, datang lagi.kalau juga bulan depan,tahun depan,sampai sakaratul maut benar benar menjemput kita.

"Wallohhualam "

Ni'mat Alloh SWT yang tak pernah putusnya bersyukurlah Saudaraku




Ni'mat Alloh SWT Tak Pernah Putus
Saudara yang dirundung kehinaan, kepahitan, ataupun kekecewaan dalam hidup ini kita bahwasannya mesti banyak banyak bersyukur..... bersyukur  dan terus bersyukur ,berbenah diri introfeksi diri supaya kita tidak menyalahkan orang lain atau sang pencipta alam ini  sekalipun.
mestinya kita banyak bersyukur kita masih diberi kesempatan menghirup udara ini yang tak ternilai oleh berapapun harta yang kita miliki andaikan saja Alloh SWT memberhentikan napas ini 5 menit saja mungkin kita akan kelabakan disinilah nikmat Alloh yang amat besar telah dibukakan kepada kita semua kita lihat lagi bagaimana Alloh memberikan penglihatan, pendengaran dan banyak lagi nikmat Alloh yang tidak bisa disebutkan satu persatu karna begitu banyaknya nikmat Alloh yang tak kan pernah pustusnya kepada kita semua maka kita selayaknya dan wajib bersyukur atas karunia ini.
yuks kita lihat dengan hati bukan dengan emosi :
Ketika kita sakit :
Alloh SWT lebih Mencintai kita sakit ketimbang sehat karena orang yang sakit akan ingat pada Tuhan-NYA
menggugurkan dosa dosa kita
Ketika Kita Sehat :
Alloh SWT Menginginkan kita banyak banyak beribadah karena ibadahnya orang yang sehat lebih sempurna ketimbang yang sakit.
Ketika Kita Miskin :
Mungkin Alloh SWT ingin melihat usaha & semangat kita
Ketika Kita Kaya :
Mungkin Alloh ingin melihat kita banyak banyak bersedekah kepada orang orang susah mumpung kalian lagi kaya karena suatu saat kalian akan jatuh miskin
Ketika Kita sulit atau susah :
Mungkin Alloh SWT ingin melihat hambanya yang sabar
Ketika Kita Senang :
Alloh SWT ingin melihat hambanya yang bersyukur
semoga renungan yang singkat ini menjadi ibroh untuk banyak banyak berbenah dan semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin Aamiin

Menangislah selagi kau bisa karena Berita Langit yang Banyak Kau Abaikan



Berita Langit yang Terabaikan
Saudaraku
     Yang dimagsud berita langit adalah berita dari Alloh SWT dan Rasul-Nya, kita ambil contoh tentang dasyatnya api neraka yang sudah banyak diceritakan didalam Al Qur'an sungguh ini bukan buaian semata ini nyata dan pasti akan terjadi.

Saudaraku ..................
     Bacalah tulisan ini dengan hatimu dan jangan baca oleh lidahmu
Sayang seribu sayang ... sungguh banyak orang meremehkan berita itu, bahkan sebagian orang mengatakan, neraka itu lebih cocok diceramahkan pada anak SD ataupun SMP seakan neraka itu hanya ancaman untuk anak anak dibawah umur saja, seakan akan orang dewasa tidak perlu ditakut takuti, seakan akan mereka tidak berdosa.
     Sebagai seorang muslim kita berkewajiban menyampaikan berita ini khusunya untuk diri sendiri umumnya untuk saudaraku seiman semoga ini menjadikan kita lebih takut lagi terhadap Alloh SWT bukan takut oleh ancaman siksa api neraka.
     Demi Alloh, saudaraku menyelamatkan diri dari neraka itu adalah keselamatan terbesar. tidak ada keselamatan yg lebih besar daripada keselamatan diakhirat, selamat dari azab siksa neraka jahannam.     Karena itu selayaknya kita menjaga diri kita dan keluarga kita dari dasyatnya api neraka kami sengaja tidak membeberkan tentang dasyatnya neraka karena sungguh terlalu panjang apalagi di tambah hadist hadistnya ada sebuah hadist :
Ada orang orang yang sedang tertawa, ditegur oleh Nabi SWT: Jika kalian mengetahui dasyatnya mengingat kematian yang akan melenyapkan kelezatan kelazatan duniawi pasti kalian tidak akan tertawa seperti itu kemudian

Rasullullah SAW Bersabda :
"Hendaklah kalian mengingat mati yang kan melenyapkan semua macam kelezatan sebanyak banyaknya dan Kubur adalah merupakan pertamanan surga bagi orang orang muknin dan merupakan neraka bagi orang orang yg kafir" (H.R.Abu Said Al Hudri ra)
      Ya Alloh jadikan kami sebagi hamba hambamu yg taat kepada-MU dan jauhkanlah dari ngerinya siksa api neraka-MU
    Ya Alloh bimbinglah kami dalam menghadapi ujian hidup ini dengan rasa ikhlas dan ridho menghadapi ujian dunia ini
      Ya Alloh berilah kami hidayah untuk memahami arti hidup dan kehidupan ini agar kami sentiasa tidak mengabaikan iman dan amal soleh Aamin  

Didiklah aku Istrimu dan Anakmu sebelum mereka menjadi musuhmu




Saudaraku, .........
kenapa didunia ini Alloh SWT sering memberikan ujian sakit keras kepada anak,istri, kedua orang tua kita dan saudara yg kita yang sangat kita cintai  bahkan diri kita akan merasan sakit nya duniawi berbulan bulan bahkan bertahun tahunan sakitnya ?
wahai engkau yg menyayangi anakmu bagaiman engkau menghadapi anakmu yg sakit berbulan bulan kau rawat dia dengan penuh kesabaran, kalau dia merintih, kau mencucurkan air mata, kalau dia menderita kau ta bisa tidur kau berusaha terus dengan sekuat tenaga untuk melepaskan derita anakmu.
kadang kadang kau berisik didalam hatimu sendiri. kasihan anak yg tak berdosa ini telang menanggung derita yg sedemikian berat selama berbulan bulan bahkan betahun tahun dia mencderita diatas pembaringan. kau hampir putus asa melihat derita anakmu yg tak tertanggungkan itu. rasanya kau ingin memberi dia suntikan mati saja agar ia terbebas dari derita itu.
Kau tahu itu, wahai saudaraku apa maksud Alloh SWT memberi ujian kepada anak yg tak berdosa itu?
Sesungguhnya Alloh SWT ingin menanamkan kasih sayang yg hakiki kedalam hati nuranimu yg paling dalam.
bukan kasih sayang yg palsu, kau curahkan habis habisan hanya untuk dunia semata. kalau kau berjuang untuk mendapatkan obat dang menghabiskan anggaran besar demi keselamtan anakmu didunia. kenapa engkau abaikan aklaqh, dan agama anakmu yg justru untuk menyelamatkan dia dari sakit abadi?
kenapa kau tidak pukul dia kala meninggalkan shalat pada saat umurnya 10 tahun sebagaimana yg dianjurkan Nabi Muhammad SAW ?
kenapa kau biarkan anak gadismu memakai pakaian setengah telanjang  padahal hukumannya sangat berat di dalam neraka?
Sungguh kalau kau hanya menyelamatkan dia dari derita dunia, itu berarti cintamu kepada anakmu adalah cinta palsu. kalau kau abaikan ibadah anakmu, sama dengan mendorongnya kedalam jurang neraka.
kalau kau abaikan pakaian muslimah bagi anak gadismu itu sama dengan menggantungkan didalam api neraka jahannam.
Kau bakar anakmu dalam api neraka jahannam.
kau biarkan anakmu menjerit jerit yg abadi kau biarkan anakmu tersiksa didalam neraka jahannam sedangkan kau berada disurga hati hati saudaraku justru yg dikwatirkan kau sudah berada didalam surga kau diseret anakmu untuk menemani didalam neraka jahannam  naudzubillah begitupula istrimu orang tuamu dan saudaramu yg lainnya didiklah mereka dengan akhlaqmu yg tinggi ajarkan nilai nilai tauhid dan tawakal kepada Alloh SWT .

Saudaraku lihat dan perhatikan dengan hatimu
Bahwa orang orang durhaka itu pada hakikatnya sedang membakar diri dalam api jahannam. maka selayaknya kita menyelamatkan saudara kita dari derita abadi

Mari kita berobat dengan taubatan nasuha semoga Alloh SWT mengampuni dosa dosa kita Aaamiin

Buat adiku ada surga di keringat dan airmatanya




Wahai Adikku …………………………
“Kasih sayang ibu  sepanjang jalan, kasih sayang anak sepanjang galah”. Itulah pribahasa yg sangat popular. Kamu juga sudah tahu, tentu dong. Kasih ibu diibaratkan jalan yg panjang tanpa ujung. Memang, ibu mengasihi kita  tanpa kenal lelah dan waktu. Hanya sayang sekali, kebanyakan anak mengasihi ibunya sebatas penggalan saja. Yg namanya penggalan tidak ada yang panjang. Semuanya pendek. Ini tentu berlaku bagi anak yg tidak tahu balas budi.
            Kamu perhatian seorang ibu yg sedang hamil ? coba Tanya deh, gimana rasanya. Pasti berat, sakit sekali kayaknya ! coba bayangin saja berat bayi yg siap lahir beserta airnya ketuban mencapai 15 kg . sangat berat, bukan?
            Co rasain saja. Ikat 7 Kg beras dalam karung ke perutmu. Coba kamu jongkok, duduk, berdiri, jalan , tidur, rukuk, sujud, dan seterusnya sambil membawa beras 7kg diperutmu, tambah lagi hingga 15 kg Apa enak?
            Dulu , kamu dalam perut ibumu. Tiap hari berat  badanmu semakin bertambah. Tapi sungguh ibumu sabar. Sambil menggendongmu yg masih dalam perut ibumu lho, ia tetap saja bekerja : nyapu rumah, ngepel lantai, cuci piring, masak makanan, dan sebagainya . ibumu menggendongmu sambil duduk, terbaring sujud, ruku , sangat begitu besar jasa ibumu terhadap kamu ?
Coba sekali kali kita tanya kepada ortu kita
mah gimana enak ngak melahirkan ?
paling jawabannya dengan tersenyum lalu menjawab sakit nak ?
Begitu ibumu melahirkan kamu ia belum bisa langsung berjalan karena masih kesakitan namun kamu tetap dalam pelukan ibumu karena ibumu tak tega melihat kamu menangis di belainya dengan lembut ketika kamu berkali kali menangis cepat cepat di peluk di pangku lalu diberi ASI  kamu pipis disembarang tempat ibumu dengan sabar mengganti popok, pipis lagi, ganti lagi pipis lagi, ganti lagi terus dan terus namun tetap sabar dan ketika kamu saki buru buru da bawa kedoter padahal kondisi orang tua kamu belum tentu memiliki uang namun kesehatan anak diutamakan meskipun nantinya ngutang dulu kesana kemari untuk biaya berobat kamu. namun mereka ikhlas menjalaninya demi kamu.
Semakin hari semakin membesar dari minum asi,  lalu bubur dan akhirnya udah besar makan nasi, perjalanan yg tidak mudah saat kau semakin besar kau semakin nakal itu membuat jengkel dan ruwet ortumu andaikan saja orang tuamu tidak sabar jengkel mungkin kita dibuangnya atau dikasihkan kepada orang lain  yg membutuhkan seorang anak namun ibumu tetap merangkul dan memelukmu dengan penuh sabar dan kasih sayang.
            Begitu pula ayahmu ia mencari nafkah buatmu bukan hasil nafkah yg tidak halal ia mencari yg halal dan berkah supaya menjadi manfaat buat anak anaknya,kadang kehujanan, kepanasan kadang dimarahin atasannnya  itu  uangnya untuk kita.
Untuk makan kita membeli pakaian ataupun sekolah  keringatnya  serta kerutan kerutan dahinya menandakan lelah dan capenya dalam bekerja namun tetap ikhlas dan sabar karena dengan penuh harapan semoga menjadi anak yg baik berguna bagi  orang tua ,agama serta nusa dan bangsa Aamiin.
       Adikku tidak sedikit ortumu mengeluarkan biaya sekolahmu hingga kau sekarang tumbuh menjadi anak yg dewasa belum kesabaran dan keikhlasan mereka.
Yuk kita benahi dari sekarang kita sayang mereka kita bahagiakan mereka sesuai kemampuan yg  kita punyai belajarlah yg sungguh sungguh buktikan pada mereka bahwa kamu bisa membahagiakan mereka minta do’a dan restu mereka karena Ridho Alloh Ridhonya mereka  dan yg paling penting jangan berhenti mendoakannya  cukup bagimu doanya orang tua adalah ter ijabah itu pasti adikku.

Ingin senang dunia akhirat mohon doa dan ampunan orangtuamu
Ingin susah dunia akhirat cukup kau durhakai mereka di jamin

Wassalam Meda
Rumahku Surgaku

Cintailah Dirimu dan Saudaramu


    Muslim yang sejati seyogyanya tidak akan pernah memikirkan dirinya sendiri keselamatan baik urusan dunia dan akhirat kita akan di uji oleh Alloh SWT sejauh mana kecintaan terhadap saudaranya sendiri.
     Sungguh kita semua mencintai saudara kita namun pernahkan kita mendoakannya supaya mereka berhasil dalam urusan dunianya ataupun akhiratnya  yaa tentu jawabanya hanya pada diri kita sendiri. Suungguh alangkah bahagianya kita semua berkumpul disurga nanti bersama saudara saudaramu. namun itu sangatlah tidak mudah banyak ujian dan cobaan serta rintangan yg berat kita jalankan.
     coba kita tanyakan pernahkah kita mendoakan saudara saudara kita supaya selamat dalam urusan, sebelum datang nya kematian bagi saudara kita.
     Saudaraku akankah kita selamat akan siksa kubur itu semua tergantung amalanya waktu hidup didunia pasti mati dan pasti mati
Wahai saudaraku, kau pasti akan melihat dasyat nya api neraka
Bukan ….!
Kalau kau tidak siapkan amal . kalau kau tetap tidak peduli dengan peringatan Alloh SWT dan Rasul-Nya, pasti kau akan dicanpakkan kedalam jahannam.
     Saudaraku Marilah kita dari sekarang yuk saling intropeksi diri dan saling mengingatkan di dalam kebaikan memperbanyak beribadah walalupun kita tidak tau apakah ibadah kita diterima atau tidak namun kita mesti oftimis yuk kita persiapan bekal tuk pulang menuju perjalanan yg abadi .
Sakit sekali Di caki maki, dihina difitnah  itulah hanya urusan dunia yg sementara  namun ada yang lebih sakit lagi yaitu siksa  Alloh SWT yg abadi.
     Siksaan yg bertahun tahun sungguh puncak diatas puncak kesakitan dibandingkan sakitnya didunia naudzubillah.

Yuks kita sama sama bertaubat kepada Alloh SWT atas dosa dosa yg telah kita perbuat selama ini.
Yaa Alloh aku mohon ampun atas kelalaian dan dosa selama hidup ini.
Yaa Alloh aku ingin menjadi hambamu yg taat.
Yaa Alloh berikan aku kekuatan tuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-MU.
Yaa Alloh ampunilah kami dan semua hambamu yg belum taat kepada-MU
Yaa Alloh selamatkanlah kami dan saudara saudara kami dari siksaan yg abadi di neraka jahannam-Mu.
Yaa Alloh  ampunilah dosa ayah dan ibuku yg telah mendidik kami dari kecil hingga dewasa saat ini
Yaa Alloh  ampunilah dosa istri dan suami serta anak kami selamatkanlah dari dasyatnya api neraka-Mu

Aamiin Ya Alloh yaa Rabbal Alamin

Kisah Wanita Supi Rabiatul Adawiyah



kisah Rabiatul Adawiyah



PENGANTAR

       Sufi adalah istilah untuk mereka yang  mendalami ilmu tasawwuf, sejenis aliran mistik dalam agama Islam. Sudah menjadi hal yang umum sejak zaman dulu bahwa yang menjadi tokoh sufi adalah berasal dari kalangan kaum laki-laki seperti Al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan Ba’alawi Al-Husaini, Syekh Abdul Qadir Jaelani, Abu Nawas, Syekh Abul Hasan Asy Syadzili. Laki-laki  memang sudah sepantasnya menjadi pemimpin dan tokoh utama dalam setiap bidang. Namun teori itu tak berlaku lagi ketika muncul  seorang tokoh sufi yang berasal dari kaum wanita  yang bernama Siti Rabiatul Adawiyah.

     Rabiah adalah sufi pertama yang memperkenalkan ajaran Mahabbah (Cinta) Ilahi, sebuah jenjang (maqam) atau tingkatan yang dilalui oleh seorang salik (penempuh jalan Ilahi). Selain Rabi’ah al-Adawiyah, sufi lain yang memperkenalkan ajaran mahabbah adalah Maulana Jalaluddin Rumi, sufi penyair yang lahir di Persia tahun 604 H/1207 M dan wafat tahun 672 H/1273 M. Jalaluddin Rumi banyak mengenalkan konsep Mahabbah melalui syai’ir-sya’irnya, terutama dalam Matsnawi dan Diwan-i Syam-I Tabriz.

BIOGRAFI RABIAH ADAWIYAH DARI BERBAGAI SUDUT PANDANG
       Siti Rabiah Adawiyah lahir di Basra pada tahun 105 H dan meninggal pada tahun 185 H. Siti Rabiah Al Adawiyah adalah salah seorang  perempuan Sufi yang  mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Soerang wanita yang alur kehidupannya tidak seperti wanita pada umumnya, ia terisolasi dalam dunia mistisme jauh dari hal-hal duniawi. Tidak ada sesuatu  yang lebih dicintainya di dunia yang melebihi cintanya kepada Allah. Kehidupannya seolah hanya untuk  mendapatkan ridho Allah, tidak ada suatu tujuan apapun selain itu. Rabiah pernah mengeungkapkan bentuk penyerahan dirinya kepada Allah, ketulusan ibadahnya kepada Allah dalam syair berikut ini :

      “Jika aku menyembah-Mu karena takut api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.”

الحب الذي لا تقيده رغبة سوى حب الله وحده

      ‘Cinta yang murni yang bukan hanya terbatas oleh keinginan adalah cinta kepada Allah semata’ Siti Rabiah Al-adawiyah dilahirkan ditengah keluarga miskin. Seisi rumahnya hanya  dapat ditemukan barang yang memang benar-benar diperlukan saja bahkan konon mereka tidak memiliki setetes minyak (sejenis minyak telon) saja untuk menghangatkan perut anaknya, mereka tidak memiliki lampu untuk menerangi rumahnya. Ayahnya  hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan. 
      Ayah Rabiah Adawiyah pantang untuk meminta-minta kepada orang lain walaupun kondisi ekonominya ditengah kehancuran dan mendekati kesengsaraan. Ayah Rabiah bernama Ismail, nama yang tidak begitu dikenal di wilayahnya, jauh dari keheidupan gemerlap kota Basra yang saat itu merupakan kota besar. Lebih baik mati daripada hidup meminta-minta kepada orang lain bagi Ayah Rabiah Adawiyah. Prinsip yang melekat dalam diri Ayah Rabiah selaku suami dari istri yang memiliki empat anak ini begitu kuat.  Sang suami selalu yakin bahwa pertolongan Allah akan segera datang,  Allah tidak pernah tertidur, Allah selalu akan menjaga dan melindungi istri dan anak-anaknya. Hingga suatu ketika  Isterinya yang malang menangis sedih atas keadaan keluarganya  yang serba memprihatinkan itu. Dalam keadaan yang demikian itu sang istri mengeluh kepada sang suami. Sang suami hanya dapat menekurkan kepala ke atas lutut  hingga akhirnya ia terlena dalam tidurnya. 
      Di dalam tidurnya ia bermimpi melihat Nabi. Nabi membujuknya: “Janganlah engkau bersedih, karena bayi perempuan yang baru dilahirkan itu adalah ratu kaum wanita dan akan menjadi penengah bagi 70 ribu orang di antara kaumku”.  Kemudian Nabi meneruskan; “Besok, pergilah engkau menghadap ‘ Gubernur Bashrah, Isa az-Zadan dan  tuliskan kata-kata berikut ini diatas sehelai kertas putih : ‘Setiap malam engkau mengirimkan shalawat seratus kali kepadaku, dan setiap malam Jum’at empat ratus kali. Kemarin adalah malam Jum’at tetapi engkau lupa melakukannya. Sebagai penebus kelalaianmu itu berikanlah kepada orang ini empat ratus dinar yang telah engkau peroleh secara halal'”. 
      Ketika terjaga dari tidurnya, ayah Rabiah mengucurkan air mata seraya bersyukur kepada Allah karena ia yakin bahwa mimpinya adalah benar dan merupakan petunjuk dari Allah bagi hambanya yang beriman. 
      la pun segera menjalankan petunjuk sebagaimana yang diperintahkan Nabi dalam mimpinya, iamenulis  dan mengirimkannya  tulisannya kepada gubernur melalui pengurus rumah tangga istana. Tidak lama setelah sang Gubernur mambaca surat tersebut, sang gubernur langsung mengirim utusannya untuk membagikan uang  masing-masing dua ribu dinar kepada orang-orang miskin.

        Seolah terhanyut dalam kebahagian dan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur karena sang gubernur merasa bahwa dia adalah orang yang istimewa di mata nabi maka ia memberikan hadiah uang empat ribu dinar kepada ayah Rabiah Adawiyah pada awalnya. Namun, setelah beberapa saat  sang gubernur  merasa tidak pantas hanya menghadiahkan uang dalam jumlah tersebut kepada kekasih Allah. Sang gubernur pun berjanji akan memberikan apapun yang  dibutuhkan ayah Rabiah Adawiyah. Kemudian sang gubernur pergi menemui Ayah dirumahnya dan membicarakan semua yang telah ia janjikan bagi ayah Rabiah Adawiyah. 
         Sebagaimana yang penulis baca dan  kutip dari  yang menceritakan  “Amir itu meminta supaya bapa Rabi’atul-adawiyyah selalu mengunjungi beliau apabila hendakkan sesuatu karena beliau sungguh berasa bertuah dengan kedatangan orang yang hampir dengan Allah. Selepas bapanya meninggal dunia, Basrah dilanda oleh kebuluran. Rabi’atul-adawiyyah berpisah dari adik-beradiknya. Suatu ketika kafilah yang beliau tumpangi itu telah diserang oleh penyamun. 
       Ketua penyamun itu menangkap Rabi’atul-adawiyyah untuk dijadikan barang rampasan untuk dijual ke pasar sebagai abdi. Maka lepaslah ia ke tangan tuan yang baru.

       Suatu hari, tatkala beliau pergi ke satu tempat atas suruhan tuannya, beliau telah dikejar oleh orang jahat. beliau lari. Tetapi malang, kakinya tergelincir dan jatuh. Tangannya patah. Beliau berdoa kepada Allah, “Ya Allah! Aku ini orang yatim dan abdi. Sekarang tanganku pula patah. tetapi aku tidak peduli segala itu asalkan Kau rida denganku. tetapi nyatakanlah keridaanMu itu padaku.
       ” Tatkala itu terdengarlah suatu suara malaikat, “Tak mengapa semua  penderitaanmu itu. Di hari akhirat kelak kamu akan ditempatkan di peringkat yang tinggi hinggakan Malaikat pun kehairanan melihatmu.” Kemudian pergilah ia semula kepada tuannya. Selepas peristiwa itu, tiap-tiap malam ia menghabiskan masa dengan beribadat kepada Allah, selepas melakukan kerja-kerjanya. Beliau berpuasa berhari-hari. Suatu hari, tuannya terdengar suara rayuan Rabi’atul-adawiyyah di tengah malam yang berdoa kepada Allah : “Tuhanku! Engkau lebih tahu bagaimana aku cenderung benar hendak melakukan perintah-perintahMu dan menghambakan diriku dengan sepenuh jiwa, wahai cahaya mataku. Jikalau aku bebas, aku habiskan seluruh masa malam dan siang dengan melakukan ibadat kepadaMu. Tetapi apa yang boleh aku buat kerana Kau jadikan aku hamba kepada manusia.”

        Dilihat oleh tuannya itu suatu pelita yang  bercahaya terang tergantung di awang-awangan, dalam bilik Rabi’atul-adawiyyah itu, dan cahaya itu meliputi seluruh biliknya. Sebentar itu juga tuannya berasa adalah berdosa jika tidak  membebaskan orang yang begitu hampir dengan Tuhannya. sebaliknya tuan itu pula ingin  menjadi khadam kepada Rabi’atul-adawiyyah. 
       Esoknya, Rabi’atul-adawiyyah pun dipanggil oleh tuannya dan diberitahunya tentang keputusannya hendak menjadi khadam itu dan Rabi’atul-adawiyyah bolehlah menjadi tuan rumah atau pun jika ia tidak sudi bolehlah ia meninggalkan rumah itu. Rabi’atul-adawiyyah berkata bahawa ia ingin mengasingkan dirinya dan meninggalkan rumah itu. Tuannya bersetuju. Rabi’atul-adawiyyah pun pergi. Suatu masa Rabi’atul-adawiyyah pergi naik haji ke Mekkah. Dibawanya barang-barangnya atas seekor keldai yang telah tua.

        Keldai itu mati di tengah jalan. Rakan-rakannya bersetuju hendak membawa barang -barangnya itu tetapi beliau enggan kerana katanya dia naik haji bukan di bawah perlindungan sesiapa. 
        Hanya perlindungan Allah S.W.T. Beliau pun tinggal seorang diri di situ. Rabi’atul-adawiyyah terus berdoa, “Oh Tuhan sekalian alam, aku ini keseorangan, lemah dan tidak berdaya. Engkau juga yang menyuruhku pergi mengunjungi Ka’abah dan sekarang Engkau matikan keldaikudan membiarkan aku keseorangan di tengah jalan.” Serta-merta dengan tidak disangka-sangka keldai itu pun hidup semula. Diletaknya barang-barangnya di atas keldai itu dan terus menuju Mekkah. Apabila hampir ke Ka’abah, beliau pun duduk dan berdoa, “Aku ini hanya sekepal tanah dan Ka’abah itu rumah yang kuat. Maksudku ialah Engkau temui aku sebarang perantaraan.” Terdengar suara berkata, “Rabi’atul-adawiyyah, patutkah Aku tunggangbalikkan dunia ini kerana mu agar darah semua makhluk ini direkodkan dalam namamu dalam suratan takdir? Tidakkah kamu tahu Nabi Musa pun ada hendak melihatKu? Aku sinarkan cahayaKu sedikit sahaja dan dia jatuh pengsan dan Gunung Sinai runtuh menjadi tanah hitam.” Suatu ketika yang lain, semasa Rabi’atul-adawiyyah menuju Ka’abah dan sedang melalui hutan, dilihatnya Ka’abah datang mempelawanya. 
       Melihatkan itu, beliau berkata, “Apa hendakku buat dengan Ka’abah ini; aku hendak bertemu dengan tuan Ka’abah (Allah) itu sendiri. Bukankah Allah juga berfirman iaitu orang yang selangkah menuju Dia, maka Dia akan menuju orang itu dengan tujuh langkah? Aku tidak mahu hanya melihat Ka’abah, aku mahu Allah.” Pada masa itu juga, Ibrahim Adham sedang dalam perjalanan ke Ka’abah. Sudah menjadi amalan beliau mengerjakan sembahyang pada setiap langkah dalam perjalanan itu. Maka oleh itu, beliau mengambil masa empat belas tahun baru sampai ke Ka’bah. Apabila sampai didapatinya Ka’abah tidak ada. Beliau sangat merasa hampa. Terdengar olehnya satu suara yang berkata, “Ka’abah itu telah pergi melawat Rabi’atul -adawiyyah.” Apabila Ka’bah itu telah kembali ke tempatnya dan Rabi’atul-adawiyyah sedang menongkat badannya yang tua itu kepada kepada tongkatnya, maka Ibrahim Adham pun pergi bertemu dengan Rabi’atul-adawiyyah dan berkata “Rabi’atul-adawiyyah, kenapa kamu dengan perbuatanmu yang yang ganjil itu membuat haru-biru di dunia ini?” Rabi’atul-adawiyyah menjawab, “Saya tidak membuat satu apa pun sedemikian itu, tetapi kamu dengan sikap ria (untul mendapat publisiti) pergi ke Ka’abah mengambil masa empat belas tahun.” Ibrahim mengaku yang ia sembahyang setiap langkah dalam perjalanannya. Rabi’atul-adawiyyah berkata, “Kamu isi perjalananmu itu dengan sembahyang,tetapi aku mengisinya dengan perasaan tawaduk dan khusyuk.” Tahun kemudiannya, lagi sekali Rabi’atul-adawiyyah pergi ke Ka’abah. beliau berdoa, “Oh Tuhan! perlihatkanlah diriMu padaku.” Beliau pun berguling-guling di atas tanah dalam perjalanan itu. Terdengar suara, “Rabi’atul-adawiyyah, hati-hatilah, jika Aku perlihatkan diriKu kepadamu, kamu akan jadi abu.” Rabi’atul-adawiyyah menjawab, “Aku tidak berdaya memandang keagungan dan kebesaranMu, kurniakanlah kepadaku kefakiran (zahid) yang mulia di sisiMu.

           ” Terdengar lagi suara berkata, “Kamu tidak sesuai dengan itu. 
       Kemuliaan seperti itu dikhaskan untuk lelaki yang memfanakan diri mereka semasa hidup mereka kerana Aku dan antara mereka dan Aku tidak ada regang walau sebesar rambut pun, Aku bawa orang-orang demikian sangat hampir kepadaKu dan kemudian Aku jauhkan mereka, apabila mereka berusaha untuk mencapai Aku. Rabi’atul-adawiyyah, antara kamu dan Aku ada lagi tujuh puluh hijab atau tirai. Hijab ini mestilah dibuang dulu dan kemudian dengan hati yang suci berhadaplah kepadaKu. Sia-sia sahaja kamu meminta pangkat fakir dari Aku.” Kemudian suara itu menyuruh Rabi’atul-adawiyyah melihat ke hadapan. Dilihatnya semua pandangan telah berubah. Dilihatnya perkara yang luar biasa. Di awang-awangan ternampak lautan darah yang berombak kencang. Terdengar suara lagi, “Rabi’atul-adawiyyah, inilah darah yang mengalir dari mata mereka yang mencintai Kami (Tuhan) dan tidak mahu berpisah dengan Kami. Meskipun mereka dicuba dan diduga, namun mereka tidak berganjak seinci pun dari jalan Kami dan tidak pula meminta sesuatu dari Kami.

       Dalam langkah permulaan dalam perjalanan itu, mereka mengatasi semua nafsu dan cita-cita yang berkaitan dengan dunia dan akhirat. Mereka beruzlah (memencilkan diri) dari dunia hingga tidak ada sesiapa yang mengetahui mereka. Begitulah mereka itu tidak mahu publisiti (disebarkan kepada umum) dalam dunia ini.” Mendengar itu, Rabi’atul-adawiyyah berkata, “Tuhanku! Biarkan aku tinggal di Ka’abah.” Ini pun tidak diberi kepada beliau. Beliau dibenarkan kembali ke Basrah dan menghabiskan umurnya di situ dengan sembahyang dan memencilkan diri dari orang ramai.

       Suatu hari Rabi’atul-adawiyyah sedang duduk di rumahnya menunggu ketibaan seorang darwisy untuk makan bersamanya dengan maksud untuk melayan darwisy itu, Rabi’atul-adawiyyah meletakkan dua buku roti yang dibuatnya itu di hadapan darwisy itu. Darwisy itu terkejut kerana tidak ada lagi makanan untuk Rabi’atul-adawiyyah. Tidak lama kemudian, dilihatnya seorang perempuan membawa sehidang roti dan memberinya kepada Rabi’atul-adawiyyah menyatakan tuannya menyuruh dia membawa roti itu kepada Rabi’atul-adawiyyah, Rabi’atul-adawiyyah bertanya berapa ketul roti yang dibawanya itu. Perempuan itu menjawab, “Lapan belas.” Rabi’atul-adawiyyah tidak mahu menerima roti itu dan disuruhnya kembalikan kepada tuannya. Perempuan itu pergi. Kemudian datang semula. Rabi’atul-adawiyyah menerima roti itu selepas diberitahu bahawa ada dua puluh ketul roti dibawa perempuan itu. Darwisy itu bertanya kenapa Rabi’atul-adawiyyah enggan menerima dan kemudian menerima pula. Rabi’atul-adawiyyah menjawab, “Allah berfirman dalam Al-Quran iaitu : “Orang yang memberi dengan nama Allah maka Dia akan beri ganjaran sepuluh kali ganda. Oleh itu, saya terima hadiah apabila suruhan dalam Al-Quran itu dilaksanakan.” Suatu hari Rabi’atul-adawiyyah sedang menyediakan makanan. Beliau teringat yang beliau tidak ada sayur. Tiba-tiba jatuh bawang dari bumbung. Disepaknya bawang itu sambil berkata, “Syaitan! Pergi jahanam dengan tipu-helahmu. Adakah Allah mempunyai kedai bawang?” Rabi’atul-adawiyyah berkata, “Aku tidak pernah meminta dari sesiapa kecuali dari Allah dan aku tidak terima sesuatu melainkan dari Allah.”

        Suatu hari, Hassan Al-Basri melihat Rabi’atul-adawiyyah dikelilingi oleh binatang liar yang memandangnya dengan kasih sayang. Bila Hassan Al-Basri pergi menujunya, binatang itu lari. Hassan bertanya, “Kenapa binatang itu lari?” Sebagai jawaban, Rabi’atul-adawiyyah bertanya, “Apa kamu makan hari ini?” Hassan menjawab, “Daging.” Rabi’atul- adawiyyah berkata, Oleh kerana kamu makan daging, mereka pun lari, aku hanya memakan roti kering.”

        Suatu hari Rabi’atul-adawiyyah pergi berjumpa Hassan Al-Basri. Beliau sedang menangis terisak-isak kerana bercerai (lupa) kepada Allah. Oleh kerana hebatnya tangisan beliau itu, hingga air matanya mengalir dilongkang rumahnya. Melihatkan itu, Rabi’atul-adawiyyah berkata, “Janganlah tunjukkan perasaan sedemikian ini supaya batinmu penuh dengan cinta Allah dan hatimu tenggelam dalamnya dan kamu tidak akan mendapati di mana tempatnya.” Dengan penuh kehendak untuk mendapat publiksiti, suatu hari, Hassan yang sedang melihat Rabi’atul-adawiyyah dalam satu perhimpunan Aulia’ Allah, terus pergi bertemu dengan Rabi’atul-adawiyyah dan berkata, “Rabi’atul-adawiyyah, marilah kita  meninggalkan perhimpunan ini dan marilah kita duduk di atas air tasik sana dan berbincang hal-hal keruhanian di sana.” Beliau berkata dengan niat hendak menunjukkan keramatnya kepada orang lain yang ia dapat menguasai air (seperti Nabi Isa a.s. boleh berjalan di atas air). Rabi’atul-adawiyyah berkata, “Hassan, buangkanlah perkara yang sia-sia itu. Jika kamu hendak benar memisahkan diri dari perhimpunan Aulia’ Allah, maka kenapa kita tidak terbang sahaja dan berbincang di udara?” Rabi’atul-adawiyyah berkata bergini kerana beliau ada kuasa berbuat demikian tetapi Hassan tidak ada berkuasa seperti itu. Hassan meminta maaf. Rabi’atul-adawiyyah berkata, “Ketahuilah bahawa apa yang kamu boleh buat, ikan pun boleh buat dan jika aku boleh terbang, lalat pun boleh terbang. Buatlah suatu yang lebih dari perkara yang luarbiasa itu. Carilah ianya dalam ketaatan dan sopan-santun terhadap Allah.” Seorang hamba Allah bertanya kepada Rabi’atul-adawiyyah tentang perkara kahwin. beliau menjawab, “Orang yang berkahwin itu ialah orang yang ada dirinya. Tetapi aku bukan menguasai badan dan nyawaku sendiri. Aku ini kepunyaan Tuhanku. Pintalah kepada Allah jika mahu mengahwini aku.”

        Hassan Al-Basri bertanya kepada Rabi’atul-adawiyyah bagaiman beliau mencapai taraf keruhanian yang tinggi itu. Rabi’atul-adawiyyah menjawab, “Aku hilang (fana) dalam  mengenang Allah.” Beliau ditanya, “Dari mana kamu datang?” Rabi’atul-adawiyyah menjawab, “Aku datang dari Allah dan kembali kepada Allah.” Rabi’atul-adawiyyah pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad S.A.W. dan baginda bertanya kepadanya sama ada beliau pernah mengingatnya sebagai sahabat. Rabi’atul-adawiyyah menjawab, “Siapa yang tidak kenal kepada tuan? Tetapi apakan dayaku. Cinta kepada Allah telah memenuhi seluruhku, hinggakan tidak ada ruang untuk cinta kepadamu atau benci kepada syaitan.” Demikian petikan dari cerita Rabiah adwiyah versia melayu yang menggambarkan betapa besar kecintaan Rabiah Adawiyah kepada Allah saat ia masih kecil hingga ia dewasa.

        Rabi’ah adalah puteri yang keempat dari empat bersaudara. Itulah sebabnya mengapa ia dinamakan Rabiah. Keberadaan cerita Rabiah sebagai cerita yang menarik dan populer pada zamannya banyak disadur dalam berbagai bahasa  yakni cerita rabiah Adawiyah versi Arab, cerita rabiah Adawiyah versi Melayu, termasuk bahasa-bahasa di Nusantara salah satunya adalah cerita Rabiah Adawiyah yang ditulis dalam bahasa Bugis.