Rabu, 14 Juni 2017

Pulang Ke Kampung Akhirat



   
  Kematian, adalah anak panah yg telah dilepaskan dari busurnya, dan kita tidak diberi tahu kapan anak panah kematian itu akan mengenai diri kita, beberapa hari ini media memberitakan tentang kematian seorang public figur meninggal dunia tiba tiba. Usia muda, tampan, kaya raya, popular dan sedang di puncak karir tiba tiba saja harus mengakhiri semua perannya. Bayangkan kalau anda sedang menonton film di bioskop. Pertunjukan sedang berlangsung seru ketika listrik tiba tiba padam. Petugas bioskop berkata, “silahkan anda pulang, pertunjukan sudah selesai!”Anda protes bahkan ingin menunggu sampai listrik hidup kembali tapi si penjaga hanya berkata tegas, “Pertunjukan sudah selesai, listriknya tak akan pernah hidup kembali.”.
     Itulah analogi sederhana dari kematian. Kematian orang yang kita kenal, apalagi kerabat kerabat dekat kita sering menyadarkan kita akan arti hidup ini. Kematian menyadarkan kita akan betapa singkatnya hidup ini, betapa seringnya kita diributkan oleh hal hal yg sepele dan betapa bodohnya kita menimbun kekayaan yang tak sempat kita nikmati.
     Hidup ini sering kali menipu dan menina bobokan kita. Untuk itu selayaknya kita intropeksi diri kita harus sadar mengenai siapa diri kita, darimana kita berasal dan kemana kita akan pulang yang sebenarnya untuk itu kita perlu sering mengambil jarak dari kesibukan kita dan melakukan kontemplasi.
     Ada suatu ungkapan menarik dari seorang filsuf Perancis, Teilhard de chardin,”kita bukanlah manusia yg mengalami pengalaman pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman pengalaman manusiawi. Manusia bukanlah”Makhluk bumi” melainkan “makluq langit”. Kita adalah makhluq spiritual yang kebetulan sedang menempati rumah kita didunia. Tubuh diperlukan karena merupakan salahsatu syarat untuk bisa hidup didunia. Tetapi tubuh ini lama kelamaan akan rusak dan akhirnya tak dapat digunakan lagi. Pada saat itulah jiwa kita akan meninggalkan “rumah” untuk “rumah” yang lebih layak. Keadaan ini kita sebut meninggal dunia. Jangan lupa, ini bukan berarti mati karena jiwa kita tak pernah mati.yang mati adalah rumah kita atau tubuh kita sendiri.
     Coba kita bayangkan seandainya kita mati hari ini baru terasa dan menyadari, akan dosa dosa yang telah kita perbuat semuanya akan dipertanggung jawabkan di hadapan Alloh SWT.
Saudara mumpung Alloh SWT masih memberikan kesempatan usia yuks kita perbaiki diri kita tak akan menjadi manusia yang ngoyo dan serakah. Kita memang perlu hidup, perlu makanan, tempat tinggal dan kebutuhan dasar lainnya. Bila anda sudah mencapai semua kebutuhan tersebut, itu sudah cukup! Buat apa sibuk mengumpul-ngumpulkan kekayaan apalagi dengan menyalahgunakan jabatan kalau hasilnya tak dapat anda nikmati selama lamanya. Apalagi anda sudah merusak jiwa anda sendiri dengan berlaku curang dan korup. Padahal jiwa inilah milik kita yang abadi.

MELAWAN KEMATIAN
     Kematian datang dengan berbagai cara. Tak ada yang bisa menghalangi, karena semua yang hidup pasti mati. Hanya soal waktu dan cara yang berbeda. 
    Tapi,semua kita memiliki sikap yang sama dalam menghadapi datangnya kematian. Setiap kita kalau bias memiliki keinginan untuk hidup selama lamanya. Hanya orang orang yang paham makna kematian saja yang bias menerima datangnya kematian dengtan ikhlas dan penuh harap.
     Bukan hanya bagi mereka yang terancam kematian. Mereka yang masih jauh dari kematian pun jauh jauh hari sudah memasang kuda kuda untuk melawan kematian. Coba bertanya pada kawan anda atau mungkin diri sendiri apakah anda siap untuk mati ahari ini? Jawabannya kan kurang lebih sama:’kalau bias, ya jangan sekarang lah’.
Beragam alasan orang untuk menghindari kematian. Ada yang merasa dirinya belum siap karena banyaknya dosa. Ia ingin bertobat ‘di masa depan’ yang entah kapan. Ada juga yang beralasan karena masih banyak tanggungan, atau ada pula masih dibutuhkan oleh umat.
     Alloh SWT telah memberiikan sinyal tentang insting melawan kematian itu Q.S.:62:8. kalau sekarang lolos, besok maut akan datang menghampiri.  Kalaupun besok lolos,minggu depan, datang lagi.kalau juga bulan depan,tahun depan,sampai sakaratul maut benar benar menjemput kita.

"Wallohhualam "

Tidak ada komentar:

Posting Komentar